i will blow

***

Menu Tab

Selasa, 30 Mei 2017

Ikan Buntal dan pembatas laut utara Semarang

Terletak di lepas pantai utara Semarang. menaiki perahu nelayan dari pinggiran pelabuhan Tanjung Mas. adalah Dam Merah, pemecah ombak yg juga dijadikan sebagai tempat memancing, aku mengunjungi tempat ini setelah sehari sebelumnya mendaki Gunung Merapi bersama degan teman2 dari komunitas pendaki gunung Semarang . bersantai menikmati Sunset, sebagian memancing, sebagian nyemplung ke laut untuk berenang.

Yeeyy dapet Ikan Buntal, ini kayaknya pertama kali aku liat bentuk ikan yang bulet lucu gitu deh.  setelah "menyiksa" dengan  meletakanya di lantai , ahirnya aku lepaskan kembali ke laut.

Ahirnya yg  di tunggu datang juga, Sunset !
menikmatinya hingga menjelang malam, aku pun kembali ke daratan dan berkunjung ke salah satu teman yang ternyata keluarganya telah menyambut kami semua untuk makan malam bersama.
menyenangkan sekali hari ini.

Besoknya aku kembali pulang ke Jakarta dengan naik kereta ,seorang diri !

Semarang  , April 2010



Senin, 29 Mei 2017

Romantisme Sunrise di Puncak Gunung Merapi


Gunung Merapi, memiliki ketinggian 2.968mdpl dan merupakan gunung berapi aktif, dimana erupsi besar terjadi pada tahun 2010 dan memakan banyak korban jiwa termasuk sang juru kunci, Mbah Maridjan. Namun begitu pasca erupsi tidak mampu membuat warga berpindah dari kawasan tersebut karena bagi mereka gunung merapi adalah sosok Ibu sekaligus mahaguru yang tidak bisa ditinggalkan. usai erupsi Merapi pasti akan memberi kesuburan ladang warga dan memberikan hasil yang berlipat ganda.


Gunung Merapi bukan sekedar fenomena alam. Ada kebudayaan dan kepercayaan yang tumbuh berimpit disana. Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang dihubungkan oleh sumbu imajiner. Masyakarat Jawa mempercayai bahwa Laut Selatan melambangkan elemen air, Gunung Merapi elemen api, dan Keraton adalah penyeimbangnya. Ketiganya dikenal sebagai trinitas kosmologi. Dan kali ini saya akan merayapi elemen api itu dengan segala keelokannya.


Bertiga dari Jakarta dg kereta senja bengawan, tiba di Semarang dan bergabung dengan kawan2 kami dari komunitas Hirael untuk fun treking ke Merapi pada pertengahan April th 2010.


Tidak ada hal yang tidak menyenangkan sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga suatu pagi di sebelah puncak Garuda, sang Matahari menyapa dari semburat garis hingga bulat penuh di pagi hari. Sempurna !


The most beautiful sunrise I ever seen, cantik bangettttt


bersambung.........






Jogjakarta, April 2010







Mengejar Cahaya puncak gunung Cikuray

Terletak di kabupaten Garut dengan puncaknya setinggi 2.821mdpl dan merupakan gunung tertinggi ke 4 di Jawa Barat.
Aku berdua saja bersama Sekar, mendaki gunung itu pada Desember 2008 lewat jalur yang salah.
tersesat, medan basah semak tinggi dan ranting yang rimbun serta hujan besar sore ini membuat disorientasi medan. 
Menjelang malam, apapun yang terjadi tenda harus bisa berdiri, yang kami cari saat itu adalah tanah sedikit lapang yang cukup lah untuk tenda kapasitas 2 asal bisa berdiri.

Hujan hingga subuh, dan terbangun dengan sedikit kaget karena tenda berdiiri tepat di bibir jurang, tanpa ada sedikitpun tanda2 jalur pendakian yang umum. oke fix tersesat...

Setelah ritual masak memasak, dari masak tempe goreng dan ikan kembung yang kami bawa, lalu packing, kami bersepakat untuk mencari jalur tanpa membawa beban keril . keril kami tinggal.
mulai perjalanan dengan memanjat tebing setinggi hampir 8 meter, lalu menggunakan insting untuk menemukan jalur , hingga kurang lebih 40 menit kemudian kami menemukan jalur normal dengan tanda ikatan tali rafia yg menempel di pohon. kami ikuti arah hingga tiba di puncak Cikurai menjelang jam 2 siang.

Ah, kami tidak bisa menemukan jalan kembali untuk mengambil keril yang tadi di tinggal, sialnya hampir semua peralatan kami tinggal termauk emergency kit .

Hujan kembali turun, waktu bergerak cepat , tanpa bekal apapun selain badan dan semangat yang mulai drop.lelah teramat sangat karena kami harus kembali naik setelah turun sekitar 2 jam hanya berharap menemukan keril yang di dalamnya ada "penyelamat" seperti senter, jas hujan, dan makanan. dan tetap saja tidak ketemu.

ahirnya kami putuskan untuk turun secepat yang kami bisa , berlari jatuh bangun jangan sampai kehilangan cahaya matahari sebelum bertemu desa.
Jam 5, hujan besar masih belum ada tanda2 penduduk terdekat.

hingga ahirnya setelah kembali berlari berberapa saat aku melihat sebuah gubug petani, jauh.. 
masih jauh sampai ahirnya hampir mejelang malam , ditengah hujan besar kami bertemu dengan pencari kayu, senang sekali sampir pingsan bertemu mereka, kami diajak untuk ke rumah petani itu, setelah mandi dan pinjami pakaian lalu di suruh istirahat sebentar, baru kami sadar bahwa rumah itu sudah ramai oleh warga (terutama bapak2) yang mendengar kabar bahwa kami tersesat.
.......
Susu sapi murni hangat tersaji untuk kami berdua, didepan tungku perapian ditemani warga kami menceritakan apa yang terjadi.

panjang lebar kami bercerita hingga diputuskan besok bebeberapa warga akan naik mencari keril yang kami tinggalkan, kami akan ikut mencari tapi warga tidak mengijikan dengan alasan takut kelelahan, 

Sore, ke esokan harinya keril di temukan.. utuh ! Alhamdulillah
Kami masih harus bermalam ditempat ini semalam lagi, baru besok pagi rencana pulang ke Jakarta dengan kisah drama Cikuray yg seru luar biasa.

Setelah pamit dan memberi imbalan atas semua bantuan yang diberikan, kami hanya menyisakan uang yang pas untuk tiket pulang, ah bahagia sekali bisa bertemu orang baik seperti mereka.
mungkin suatu hari nanti saya akan kembali lagi..

Terima kasih Cikuray

Garut, Desember 2008









Kabut Desa Karangan di Lembah Gunung Latimojong

Desa Karangan terletak di kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. adalah desa terahir sebelum masuk ke pintu rimba kawasan pendakian ke pegunungan Latimojong, dengan puncaknya Rante Mario 3478mdpl  yang merupakan titik tertinggi di tanah Sulawesi.

Singgah di sebuah rumah panggung milik pemuka Desa, berinteraksi dengan penduduk lokal yg ramah merupakan keasyikan tersendiri dalam setiap kali melakukan pendakian gunung, dimanapun.

Tanpa aliran listrik, aroma kopi dan kabut adalah ciri lain dari desa ini

.....

Sulawesi Selatan, Mei 2009



Minggu, 28 Mei 2017

Tequilla dan Jogja yang penuh Cinta

Bekerja sebagai buruh pabrik di Texmaco sebagai Production Planer membuat aku kehilangan sisi hidupku yang lain, kehidupan sosial.
kerja Senin- Sabtu, jam kerja dari jam 7 pagi hingga paling cepat jam 8 malam membuat materi yang aku dapat  tidak berarti apapun.
libur menjadi barang mewah di sini, hingga pada sabtu  sore dg tanpa persiapan Aku pergi ke Jogja bersama seorang kawan dekat dg menaiki bus yang aku berhentikan di jalan di dekat tol Cikampek.

Pagi tiba di Jogja, Sunrise dan nasi gudeg menyaba ramah di daerah entahlah aku lupa, yang jelas dekat dengan kawasan Hotel bintang 4 dimana saudara sepupuku bekerja sebagai bartender di situ.

Aku beristirahat di kosannya , tidur seharian,mematikan hp
"kamu kesini dong" itulah pesen sms yang aku terima setelah aku nyalakan hp selepas maghrib dari sepupu.
tiba di cafe hotel, duduk santai di pojokan,.ini, cobain? aku gak tau namanya ,satu sloki yang kata dia seharga Rp 300rb, agak ragu2 sampai dia meyaakinkan untuk nyobain mumpung disini, tenang gak akan mabuk
sampai sloki ke tiga dan baru dia menyebut kalau itu Tequilla.

Hari ke 2 di Jogja aku sempatkan untuk menemui teman2ku, entah mereka sedang kuliah atau punya bisnis di Jogja. semalam suntuk kami ada di pusat kota jogja, dari kopi joss, angkringan dg hiburan dari musisi jalanan , juga obrolan meriah dari teman2 yang sejak siang tadi aku temui dari satu tempat ke kempat lain.

Ah sudah, cukup.. menyenangkan sekali hari ini , memantabkan aku untuk segera resign dari kantor ku saat ini, aku cuma tidak mau hidupku tidak imbang.
3 bulan kemudian aku Resign disaat yang sama aku kasih penawaran kenaikan gaji dan asisten.
No Sir, these cant buy a moment.

Pamitan dan keluar kantor dengan hati yang sangat berbahagia
Bersyukur , keluar kerja hari sabtu, hari seninnya  sudah masuk di Kantor baru lagi di kawasan Kuningan (ujung Rasuna Said) Jakarta Selatan , kembali menjadi buruh di Pusat kebudayaan Italy, under Italian Embassy

Jogja, Juli 2008





Sabtu, 27 Mei 2017

Bali, dan Sahabat yang telah pergi



Entah berapa kali aku mendengarkan lagu dg judul fool again dari boyband kenamaan saat itu, Westlife sepanjang perjalanan Purwokerto - Bali dalam rangka study tour kelas 2 SMK.
Masuk di sekolah favorit, jurusan favorit dan kelas favorit. bangga? senang? TIDAK SAMA SEKALI. lingkungan baru, makanan baru, teman2 baru tidak masalah, bermasalah adalah ketika teman2 bahkan hampir semua teman disini gila belajar.bangun pagi buta untuk belajar, mengurung diri dalam kamar , membaca , mengerjakan semua tugas sekolah, lalu berangkat sekolah tepat waktu, pulang sekolah langsung ke kosan dan kembali belajar hingga malam hari. omg melihatnya saja sudah pening kepala.
Sempet sakit di perantauan selama 2 bulan, tidak ada saudara sama sekal disini, berat badan drop hingga ke angka 41kg, orang tua ada di luar pulau. itulah yang menyebabkan aku bersahabat cukup dekat dengan beberapa teman, salah satunya adalah teman sekelasku.

Adalah "Icha" Kartika Rahmawati, cewek paling gaol di kelas, paling jago matematika dan pacarnya adalah penyiar radio . darinya aku sedikit tau tentang relationship dg lawan jenis yang saat itu masih agak jauh belum ada di pikiranku.

jadi ceritanya saat itu Icha sedang patah hati bersamaan dengan jadwal studi tour ke Bali, dia meminta ke panitia untuk dipastikan duduk bersebelahan dengan ku sampai suatu malam tibalah di Bali, menginap dikawasan Poppies, Kuta. lelah setelah melakukan perjalanan lumayan panjang dg sejuta kisah drama cinta icha, dia pun mengajaku jalan2 pergi keluar hotel berdua saja. sampai di depan sebuah warung dia tanya "lin, kamu pernah merokok" aku jawab aku belum pernah
lalu icha masuk ke warung dan membeli setengah bungkus sampoerna mild "lin, bathiri aku udud ya"
hahaha atas dasar persahabatan, ahirnya aku pun mencoba rokok untuk yang pertama kali, bersama icha, dengan batuk2 dan tertawa konyol kamipun melanjutkan cerita entah apa saja , seingatku tiba2 tak terasa sudah hampir pagi.

lulus sekolah kami pun berpisah, melanjutkan studi, bekerja merantau pindah2 kota dan putus komunikasi selama bertahun2. hingga suatu siang kami bertemu fesbuk, 8 tahun kemudian. senang karena Icha sudah menikah dengan kevin, cowok yang aku kenalin semasa smk dulu dan dia sudah berbahagia tinggal di Manado dengan 2 anak yg lucu. sering ngobrol walau hanya bertanya kabar, rencana reuni teman seangkatan setelah lebaran hingga rencana2 lain yang ingin segera terwujud untuk sekedar ketemu lagi.

Namun ternyata Tuhan tidak mengijinkan kami bertemu kembali, Icha di panggil pulang setelah mengalami penyumbatan kelenjar otak akibat kecelakaan motor th 2014.

Maafin aku cha,
belum sempet menjenguk bahkan disaat kamu sakit, semoga Tuhan mengampuni dosa2mu dan diberi tempat yang terbaik di sisiNya, Aaminn

Sampai bertemu kembali, Cha
Bali, 26 Juni 2000

Rabu, 17 Mei 2017

73 hari di Pekan Baru, Riau


Masih ingat rasanya ketika tangan ini menggenggam butiran pasir hitam di tepian pelabuhan Dumai, 6 hari mengarung laut China Selatan bersama keluarga untuk pindah sementara di kota ini.
masih terbayang jelas kapal besar yg membawaku, Ayah Ibu dan adikku selama 6 hari mengarungi laut, melihat gemerlap Singapura dari kejauhan, terombang ambing dilaut , sirene darurat berbunyi saat air sebaian sudah masuk ke bagian depan kapal, orang2 berlari panik dan aku hanya melihat orang2 dewasa berlarian.

Tiba di Pekan baru pagi hari, cerah dan kami semua selamat
Kami tinggal di sebuah kampung bernama Kerinci ,dan  hidup sangat sederhana
bermain dengan teman2 sebaya di sungai,, ladang2 dan hutan pinggiran. hingga pada suatu pagi pandanganku  terganggu oleh pembukaan hutan yang memaksa penghuninya pergi dan mati karena kehilangan habitat aslinya. kera2 berteriak sahut2an dengan mesin besar pemotong kayu. mereka tergusur oleh pembukaan lahan dan pertanian baru bagi penduduk pendatang, seperti kami...

Pekan Baru, Riau 1990